Pages

Minggu, 29 September 2013

DIA

Di sore hari saat aku berjalan sendiri
Lembayung berbaur lewat udara.
Tubuh ku di peluk hangat sore mentari.
Jingga langit seakan menuntun arah ku menuju padanya.

Padanya di taman di mana aku datang sendirian.
Selalu.
Ku temukan dia terayun menari gemulai tertiup angin sore.
Seolah hendak menggapai dan melambai-lambai.

Hati mana yang tidak tergoda?
Ku pandangi indah warnanya.
Ku ciumi harum aroma tubuhnya.
Ku dengarkan merdu bisik suaranya.

Sayang tetapi sayang aku tidak bisa menggapainya.
Mendapatkan untuk memilikinya.

Tersadar aku terlalu berharap.
Terbuai aku tak sadarkan diri.
Aku berharap sekalipun dia tidak sempurna.
Tapi aku tidak punya yang sempurna.

Dia sadarkan aku
Aku tersadar
Dia adalah bunga di taman yang berpagar dan milik seseorang.

KUCING HITAM DAN SEBATANG ROKOK

Tengah malam.
Yeah ini sudah tengah malam.
Gerangan apa yang aku lakukan sekarang?
Bergadang?
Aku sendiri tidak tahu.

Hanya sebatang rokok ku hisap pelan
Tidak ada rasa terasa dari asap yang berbisa
Ku lakukan hanya untuk mengimbangi waktu yang terasa juga pelan
Ini begini itu sudah biasa.

Kucing hitam yang tak ku kenal sempat menyapa
Kini dia menjadi teman
Walau tidak ku ketahui namanya siapa
Kita tidak bicara
Karena aku tidak mrngerti bahasa kucing
Tapi bukan berarti aku tidak bisa mengeong “meouw!”

Perlahan rokok di tangan habis tak terasa
Kucing hitam yang sempat ingin ku tanyakan siapa namanya
-entah dimana gerangan dia berada?
Malam ini biasa
Hanya saja rokok dan kucingnya terasa luar biasa.

'KU SIMPAN DULU CITA-CITAKU DI DALAM LACI

oleh Jo Yousuf pada 27 Oktober 2010 jam 15:55

aku bicara saat di depan ku ada cermin
tersenyum
tertawa
bersedih
menangis
atau sekedar cemberut aku bagi dalam imajinasi saat larut.
larut dalam selimut kabut dan tersudut.
sinting! mereka kira aku gila. 

aku belajar mengenai hidupku sendiri.
ya... cuma aku sendiri yang paham.
'tak apalah.. toh mereka kira aku gila.

aku ingin berjalan menembus hutan.
membekaskan jalan bagi orang-orang yang sok paham.
selalu aku coba karena aku selalu bergelora.
ahh... sia sia harapanku.
belanga dan rumput liar tumbuh menghapus jejak harapanku.

apa salahku?
aku bertanya dalam sendu.
ya ya ya aku tahu.
mungkin sekarang bukan giliranku menang.
biar aku rehat sejenak untuk menumbuhkan sayap
hingga tiba saatnya aku terbang.
'tak perlu menembus lagi hutan.

Sabtu, 28 September 2013

MENGENANG


Oleh: Jo Yusuf


Aku mengenangmu
Sambil meneguk wine dengan ceri di minumanku
Aku tak perlu ke pantai
Karena ada sunset di gelasku

Sedikit demi sedikit laut di gelaskupun surut
Turut larut
Mataharipun luput di mulut
Aku cemberut

Tak berharap hujan atau bertamu matahari
Yang jelas hatiku gerimis karena awan mendung

Aku tak ingin begini
Perasaan ini begitu menyiksa
Jika memang ada perpisahan setelah pertemuan
Mengapa harus ada rindu?

Bisakah selesai tanpa "hanya!"?
Tak perlu abu untuk hitam dan putih
Tak perlu sore untuk siang dan malam
Tak perlu pantai untuk laut dan darat
Tak perlu ungu untuk merah dan biru
Karena merindu ternyata lebih menyiksa daripada kehilangan

NEGERI MIMPI

Oleh: Jo Yusuf


Ada sore di jendela menerobos masuk tembus ke tirai menuju kamarku
Wangi sore yang membawa aroma bunga di taman. begitu memabukan
Membekukan tubuhku
Terkenang seseorang yang tak bisa di pandang

Matahari karam
Malam kelam
Mata terpejam

Aku bertemu dia
Aku akan bahagia
Aku yakin cinta untuk dia

Di rumput hijau
Di teduh silau
Diriku memeluk dikau

Kau yang sudah tiada
Kau yang di dada
Kau yang kini di surga berada

Malam ini aku melepas rindu
Mari menyatu padu
Maka malampun sendu

AKU PAGI YANG MERINDUKAN KAMU SINAR MENTARI

Oleh: Jo Yousuf


Saat aku bangun
Dari tidurku yang semalam gundah
Kini aku sadar kalau kegundahan ku itu
Dikarenakan aku yang kini sendiri

Ku coba lakukan rutinitas seperti biasanya
Ku putar DVD
Ku dengar radio
Ku tonton television
Juga ku cicipi kopi basi bekas semalam

Semua sama saja
Terasa hambar
Tidak ada yang bisa mengalihkan perhatianku darimu
Dan aku terlalu pengecut merasakan dinginnya lantai
Untuk beranjak dari tempat tidur
Tapi aku juga tidak mau terjebak dan menjadi tua seperti ini

Oh.. Sayang
Di manakah dirimu?
Dunia seperti berbeda tanpamu
Dunia seakan tidak ku kenal
Atau apakah aku selama ini tidak peduli pada dunia?

Cinta semoga kau sadar dengan situasi ini
Kalau kau adalah segalanya buatku
Aku tak semangat menjalani hidup tanpamu
Datang secepatnya kepadaku
Dan kembalikan hidupku yang telah kau curi itu

Peluk dan hangatkan tubuhku
Kehadiranmu saat ini adalah
Aku pagi yang merindukan kamu sinar mentari

KU SIMPAN DULU CITA-CITAKU DI DALAM LACI

Oleh: Jo Yousuf


Aku bicara saat di depan ku ada cermin
Tersenyum
Tertawa
Bersedih
Menangis
Atau sekedar cemberut aku bagi dalam imajinasi saat larut
Larut dalam selimut kabut dan tersudut
Sinting! Mereka kira aku gila

Aku belajar mengenai hidupku sendiri
Ya... Cuma aku sendiri yang paham
Tak apalah.. Toh mereka kira aku gila

Aku ingin berjalan menembus hutan
Membekaskan jalan bagi orang-orang yang sok paham
Selalu aku coba karena aku selalu bergelora
Ahh... Sia-sia harapanku
Belanga dan rumput liar tumbuh menghapus jejak harapanku

Apa salahku?
Aku bertanya dalam sendu
Ya ya ya aku tahu
Mungkin sekarang bukan giliranku menang
Biar aku rehat sejenak untuk menumbuhkan sayap
Hingga tiba saatnya aku terbang
Tak perlu menembus lagi hutan